Ketika membicarakan Desa Alamendah di Rancabali, orang mungkin lebih cepat teringat pada kebun stroberi, udara sejuk, dan lanskap pertanian Bandung Selatan.
Namun, ada aktivitas lain yang tidak kalah menarik untuk dikenal, yaitu Peternakan Sapi Perah di Desa Alamendah.
Peternakan sapi di sini bukan hanya menjadi kegiatan ekonomi masyarakat. Aktivitas sehari-hari peternak kemudian ikut dikembangkan sebagai pengalaman wisata edukasi.
Profil resmi Desa Wisata Alamendah bahkan memasukkan pemerahan susu sapi sebagai salah satu kegiatan dalam paket Alamendah Trip. Wisatawan dapat melihat lebih dekat aktivitas peternakan yang biasanya jarang ditemui masyarakat perkotaan.
Catatan kunjungan Telkom University pada Oktober 2025 memperlihatkan bagaimana peserta wisata edukasi diajak mendatangi peternakan milik warga, mengenal pakan ternak, melihat proses pemerahan, hingga mencicipi susu.
Dari sinilah peternakan sapi perah Alamendah menjadi menarik. Susu bukan sekadar hasil produksi, tetapi bagian dari cerita tentang pekerjaan warga, teknologi, pertanian terpadu, dan pengembangan desa wisata.
Peternakan Sapi Perah Menjadi Bagian Kehidupan Alamendah
Desa Alamendah berada di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, kawasan yang mempunyai karakter kuat sebagai wilayah pertanian dan agrowisata.
Website resmi Desa Wisata Alamendah menjelaskan bahwa selain pertanian dan perkebunan, sebagian masyarakat juga menjalankan kegiatan peternakan sapi.
Keberadaan peternakan ini melengkapi wajah ekonomi desa yang cukup beragam. Masyarakat tidak hanya bergantung pada satu komoditas, melainkan memiliki aktivitas mulai dari stroberi, sayuran, kopi, UMKM hingga peternakan.
Bagi keluarga peternak, sapi perah membutuhkan perhatian setiap hari. Pemberian pakan, kebersihan kandang, kesehatan ternak, pemerahan dan penanganan susu harus dilakukan secara rutin.
Artinya, berbeda dengan sebagian aktivitas wisata yang hanya berlangsung pada waktu tertentu, peternakan merupakan pekerjaan harian. Justru rutinitas autentik seperti inilah yang kemudian mempunyai nilai menarik ketika dikemas menjadi wisata edukasi.
Bagaimana Sapi Perah Dirawat di Alamendah?
Merawat sapi perah tidak hanya berarti memberi makan lalu mengambil susunya. Kondisi ternak sangat berhubungan dengan pengelolaan kandang, pakan, kebersihan dan proses pemerahan.
Dalam kunjungan mahasiswa BIPA Telkom University ke salah satu peternakan warga Alamendah pada Oktober 2025, sapi diberi rumput gajah sebagai pakan. Pada peternakan yang dikunjungi tersebut, pemerahan dilakukan dua kali sehari, yakni sekitar pukul 06.00 dan 15.00.
Sebelum proses pemerahan, sapi juga dimandikan. Praktik tersebut disebut dilakukan untuk membantu menjaga kebersihan sekaligus kualitas susu yang dihasilkan.
Menariknya, beberapa sapi bahkan memiliki nama masing-masing. Salah satu sapi dalam peternakan yang dikunjungi diberi nama “Adwi”, singkatan dari Anugerah Desa Wisata Indonesia, karena lahir ketika Alamendah memperoleh penghargaan terkait desa wisata.
Cerita sederhana seperti ini membuat peternakan terasa lebih dekat dengan kehidupan sosial masyarakat, bukan hanya tempat produksi susu.
Proses Pemerahan Susu yang Membutuhkan Kebersihan
Pemerahan menjadi tahap penting dalam peternakan sapi perah karena susu merupakan produk yang mudah terkontaminasi jika penanganannya kurang baik.
Program pengabdian masyarakat yang melibatkan peternak sapi perah binaan Desa Wisata Alamendah menemukan bahwa sebagian proses pemerahan masih dilakukan secara manual.
Banyaknya kontak tangan dalam proses tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas susu.
Karena itu, tim pengabdian mengembangkan mesin pemerahan multifungsi yang menggabungkan proses pemerahan dan pasteurisasi. Tujuannya adalah mengurangi kontak langsung selama proses produksi sekaligus membantu menekan jumlah mikroba melalui pengolahan panas.
Hasil program tersebut menunjukkan susu yang melewati proses pemerahan, pasteurisasi, dan pendinginan menggunakan sistem yang dikembangkan dapat bertahan hingga enam hari dalam konteks implementasi mitra penelitian.
Contoh ini menunjukkan bahwa peternakan tradisional dan teknologi tidak harus berlawanan.
Teknologi dapat membantu pekerjaan peternak sekaligus meningkatkan standar kebersihan dan konsistensi hasil produksi.
Dari Susu Segar Menuju Produk Bernilai Tambah
Secara ekonomi, susu segar merupakan titik awal dari banyak kemungkinan produk.
Setelah diperah dengan prosedur yang baik, susu dapat dipasarkan atau diproses lebih lanjut. Pengolahan menjadi produk seperti susu pasteurisasi, yoghurt, minuman susu atau berbagai kreasi kuliner dapat memperpanjang rantai nilai dibanding hanya menjual bahan mentah.
Potensi seperti ini cukup relevan bagi Alamendah karena desa tersebut telah mempunyai ekosistem UMKM dan pariwisata.
Profil Jadesta menunjukkan bahwa produk wisata Alamendah memang dibangun dari berbagai aktivitas keseharian masyarakat, termasuk pertanian, pemerahan susu, pengolahan makanan, prakarya dan kesenian.
Artinya, susu sapi dapat dikembangkan bukan sekadar sebagai komoditas peternakan.
Misalnya, pengalaman wisata dapat dilanjutkan dengan demonstrasi pengolahan susu, mencicipi produk lokal, atau mengenalkan cara penyimpanan susu yang aman. Semakin panjang proses yang dilakukan di desa, semakin besar pula peluang terciptanya nilai tambah untuk masyarakat.
Tentu saja, pengembangan produk susu tetap memerlukan perhatian terhadap sanitasi, pasteurisasi, penyimpanan dingin dan standar keamanan pangan.
Peternakan Sapi Perah sebagai Wisata Edukasi
Salah satu hal paling menarik dari peternakan sapi Alamendah adalah transformasinya menjadi atraksi wisata.
Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut bahwa sejak 2019 Desa Wisata Alamendah mulai mengembangkan produk wisata berdasarkan aktivitas asli masyarakat. Salah satu aktivitas yang ditawarkan adalah memerah susu sapi.
Kegiatan tersebut kemudian masuk dalam paket Alamendah Trip yang memadukan pertanian, pemerahan susu, UMKM, prakarya dan kesenian. Pada semester kedua 2019, berbagai paket desa menarik lebih dari 30 grup dengan total lebih dari 2.500 wisatawan.
Website resmi Alamendah juga menempatkan wisata peternakan sebagai bagian dari paket yang menghubungkan kegiatan desa dengan pengalaman pengunjung.
Belajar Langsung Lebih Mudah Dipahami
Bagi anak-anak, melihat proses pemerahan secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibanding hanya mengetahui bahwa susu berasal dari sapi.
Mereka dapat melihat hewannya, memahami kebutuhan pakan, mengenal kebersihan kandang dan menyaksikan bagaimana susu diperoleh.
Kunjungan mahasiswa internasional Telkom University pada 2025 menjadi contoh bagaimana peternakan Alamendah digunakan sebagai tempat belajar mengenai pertanian, peternakan dan kehidupan masyarakat desa.
Konsep seperti ini sangat potensial untuk rombongan keluarga maupun sekolah.
Hubungan Peternakan dengan Pertanian Stroberi
Salah satu sisi menarik kehidupan agraris Alamendah adalah hubungan antara berbagai aktivitas produksi.
Pada kunjungan Telkom University tahun 2025, peserta diperkenalkan dengan peternakan sapi sebelum mengunjungi kebun stroberi. Dalam dokumentasi tersebut dijelaskan bahwa kebun stroberi setempat menggunakan pupuk alami yang berasal dari kotoran hewan.
Hal ini memberi gambaran sederhana mengenai potensi integrasi antara peternakan dan pertanian.
Kotoran ternak yang dikelola dengan benar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Dengan demikian, peternakan bukan hanya menghasilkan susu, tetapi juga menyediakan material yang berpotensi kembali digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Bagi desa seperti Alamendah yang mempunyai pertanian stroberi, perkebunan, dan peternakan dalam satu kawasan, pendekatan terpadu seperti ini menarik untuk terus dikembangkan.
Wisatawan pun dapat belajar bahwa sistem pertanian desa sebenarnya saling terhubung.
Teknologi Membuka Peluang bagi Peternak Lokal
Tantangan peternakan sapi perah tidak hanya terletak pada jumlah produksi. Konsistensi kualitas dan keamanan susu juga sangat penting.
Program teknologi mesin perah yang diterapkan kepada mitra peternak Alamendah menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan membantu masalah tersebut.
Sistem yang dikembangkan menggabungkan proses pemerahan, pasteurisasi dan pendinginan sehingga kontak langsung selama pengolahan dapat dikurangi.
Kolaborasi semacam ini mempunyai nilai strategis.
Peternak tetap memiliki pengetahuan praktis mengenai ternak dan kondisi lokal, sementara akademisi dapat membawa solusi teknologi, penelitian dan peningkatan proses produksi.
Desa Wisata Alamendah sendiri memang aktif membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai mitra. Jadesta mencatat kerja sama tersebut digunakan untuk mendukung inovasi, penelitian, pengabdian masyarakat dan pengembangan kapasitas warga.
Jika berlanjut, kombinasi peternakan, teknologi dan wisata dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi lokal.
Tantangan Peternakan Sapi Perah ke Depan
Potensinya menarik, tetapi peternakan sapi perah membutuhkan pengelolaan yang serius.
Kebersihan pemerahan, kesehatan sapi, mutu pakan, sanitasi kandang dan pengolahan susu harus menjadi prioritas. Studi penerapan mesin perah di Alamendah sendiri muncul karena ditemukan tantangan kualitas pada sistem pemerahan manual di tingkat mitra.
Ketika peternakan juga digunakan sebagai tempat wisata, aspek kesejahteraan hewan menjadi semakin penting.
Jumlah pengunjung, cara berinteraksi dengan sapi dan proses pemerahan sebaiknya tetap mengikuti kebutuhan ternak, bukan semata mengejar pengalaman wisata.
Pengunjung perlu mendapat arahan dari peternak atau pemandu sebelum menyentuh, memberi pakan atau mencoba kegiatan di kandang. Pengelolaan yang baik akan membuat wisata edukasi tidak mengganggu fungsi utama peternakan.
Justru wisata seharusnya membantu masyarakat memperkenalkan profesi peternak sekaligus membuat pengunjung lebih menghargai proses panjang di balik segelas susu.
Peternakan Sapi Perah di Desa Alamendah menunjukkan sisi lain kehidupan agraris Rancabali. Peternakan tidak hanya menghasilkan susu, tetapi telah menjadi bagian dari wisata edukasi, pembelajaran pertanian, inovasi teknologi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerahan susu bahkan menjadi salah satu pengalaman yang ditawarkan dalam paket Desa Wisata Alamendah.
Kehadiran teknologi pemerahan dan pasteurisasi juga memperlihatkan bahwa usaha tradisional dapat terus berkembang dengan dukungan inovasi.
Jika berkunjung ke Alamendah, jangan hanya berhenti di kebun stroberi atau menikmati pemandangan pegunungan.
Cobalah mengenal peternak lokal, melihat bagaimana sapi dirawat, memahami proses pemerahan, dan belajar dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari sana, segelas susu akan terasa punya cerita yang jauh lebih panjang.
FAQ
1. Apakah ada peternakan sapi perah di Desa Alamendah?
Ya. Peternakan sapi perah menjadi salah satu aktivitas masyarakat sekaligus bagian dari daya tarik Desa Wisata Alamendah.
2. Apakah wisatawan bisa melihat proses pemerahan susu?
Ya. Pemerahan susu sapi tercantum sebagai salah satu kegiatan yang dikembangkan dalam paket wisata Alamendah Trip.
3. Berapa kali sapi diperah di Alamendah?
Pada salah satu peternakan warga yang didokumentasikan Telkom University pada Oktober 2025, pemerahan dilakukan dua kali sehari, sekitar pukul 06.00 dan 15.00. Praktik setiap peternakan dapat berbeda.
4. Apa pakan sapi perah di Alamendah?
Dalam peternakan yang dikunjungi Telkom University pada 2025, sapi diberi pakan rumput gajah. Jenis dan formulasi pakan tentu dapat berbeda antarpeternak.
5. Apakah peternakan Alamendah sudah menggunakan teknologi pemerahan?
Ada program penerapan teknologi mesin pemerahan, pasteurisasi dan pendinginan pada kelompok peternak binaan Desa Wisata Alamendah untuk membantu meningkatkan kualitas pengolahan susu.