Datang ke kawasan Ciwidey dan Rancabali rasanya kurang lengkap kalau belum bertemu dengan buah merah mungil yang satu ini.
Di sepanjang kawasan Bandung Selatan, stroberi mudah ditemukan dalam bentuk buah segar, kebun wisata, makanan olahan, hingga oleh-oleh.
Salah satu wilayah yang punya hubungan kuat dengan komoditas tersebut adalah Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali. Stroberi Alamendah sebagai komoditas andalan Rancabali bukan sekadar slogan pariwisata.
Penelitian IPB menyebut Alamendah sebagai salah satu produsen stroberi di Kabupaten Bandung, sementara penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa sebagian besar areal stroberi Rancabali pernah terkonsentrasi di desa ini.
Menariknya, stroberi di Alamendah tidak berhenti di kebun. Buah ini berkembang menjadi bagian dari pengalaman agrowisata dan bahan baku produk UMKM.
Jadesta Kementerian Pariwisata bahkan mencantumkan pertanian stroberi sebagai salah satu atraksi Desa Wisata Alamendah serta keripik stroberi sebagai produk lokalnya.
Lantas, mengapa stroberi begitu cocok berkembang di Alamendah dan bagaimana komoditas ini ikut menggerakkan kehidupan desa?
Mengapa Stroberi Cocok Ditanam di Rancabali?
Tanaman stroberi menyukai lingkungan dengan karakter tertentu. Pedoman budidaya stroberi Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa wilayah lereng pegunungan termasuk daerah yang sesuai untuk pengembangan komoditas ini.
Kondisi lingkungan dan media tanam yang tepat sangat menentukan pertumbuhan serta mutu buah. Karakter tersebut cocok dengan kawasan Rancabali yang berada di dataran tinggi Bandung Selatan.
Penelitian hortikultura IPB pada 2024 bahkan dilakukan langsung di lahan petani Rancabali, menunjukkan bahwa kawasan ini masih aktif menjadi lokasi budidaya dan penelitian stroberi.
Udara sejuk bukan satu-satunya faktor. Petani juga perlu memperhatikan media tanam, pemupukan, penyiraman, kesehatan tanaman, serta waktu panen. Jadi, buah merah yang terlihat cantik di kebun sebenarnya merupakan hasil dari proses budidaya yang cukup teliti.
Hal tersebut pula yang membuat pengetahuan petani menjadi aset penting. Semakin baik teknik budidayanya, semakin besar peluang memperoleh buah dengan ukuran, tekstur, rasa, dan daya simpan yang sesuai kebutuhan pasar.
Alamendah Sudah Lama Dikenal sebagai Sentra Stroberi
Hubungan Alamendah dengan stroberi bukan fenomena baru. Sebuah penelitian IPB tahun 2009 mencatat bahwa kawasan Rancabali ketika itu memiliki sekitar 105 hektare lahan stroberi, dengan rata-rata produksi yang dilaporkan sekitar 50 ton per hektare per tahun.
Sebagian besar areal tersebut disebut tersebar di Desa Alamendah.
Angka tersebut merupakan gambaran historis, sehingga tidak tepat digunakan untuk menggambarkan kondisi produksi saat ini. Namun, data itu menunjukkan bahwa stroberi telah lama mempunyai posisi penting dalam struktur agribisnis Alamendah dan Rancabali.
Penelitian yang lebih baru dari IPB pada 2023 kembali menyebut Alamendah sebagai salah satu produsen stroberi di Kabupaten Bandung. Studi tersebut menganalisis pendapatan sekaligus efisiensi usaha tani stroberi di tingkat petani desa.
Dengan kata lain, stroberi bukan hanya tanaman yang muncul karena tren wisata. Ada sejarah aktivitas pertanian dan agribisnis yang cukup panjang di belakangnya.
Stroberi sebagai Sumber Pendapatan Petani
Bagi masyarakat desa, nilai utama stroberi tentu berada pada sisi ekonominya. Buah dapat dijual dalam keadaan segar kepada konsumen, pengepul, pedagang, pelaku kuliner, maupun sektor pariwisata.
Penelitian IPB tahun 2023 menemukan bahwa usaha tani stroberi di Desa Alamendah secara ekonomi masih layak diusahakan berdasarkan sampel dan kondisi penelitian tersebut. Nilai R/C atas biaya tunai tercatat 2,36, sedangkan R/C atas biaya total sebesar 1,16.
Secara sederhana, angka R/C di atas 1 menunjukkan bahwa penerimaan lebih besar daripada biaya yang diperhitungkan dalam penelitian tersebut.
Namun, menjadi petani stroberi juga bukan perkara mudah. Studi yang sama mencatat adanya kecenderungan penurunan produksi serta persoalan efisiensi penggunaan beberapa input.
Pupuk kandang dan pupuk daun termasuk faktor yang berpengaruh positif terhadap produksi, tetapi penggunaannya masih perlu dioptimalkan.
Ini menunjukkan bahwa status sebagai “komoditas andalan” tidak berarti stroberi bebas tantangan. Petani tetap harus menghadapi biaya produksi, kualitas bibit, cuaca, penyakit tanaman, kualitas buah, serta perubahan permintaan pasar.
Varietas dan Kualitas Stroberi Terus Dikembangkan
Budidaya stroberi di Rancabali juga berkembang melalui penggunaan varietas dan teknologi pertanian.
Penelitian IPB yang dilakukan di Rancabali pada Juli–Agustus 2024 menggunakan varietas Mencir. Studi tersebut menjelaskan bahwa Mencir berasal dari Bandung sebagai hasil persilangan varietas Festival dan California serta populer di kawasan Ciwidey dan Rancabali.
Penelitian itu mempelajari penggunaan unsur mikro boron dan molibdenum terhadap kualitas buah.
Hasilnya menunjukkan perlakuan tertentu dapat memengaruhi beberapa indikator kualitas seperti kekerasan buah, keasaman, dan total padatan terlarut, meskipun tidak meningkatkan produksi dalam percobaan tersebut.
Hal seperti ini penting karena pasar tidak hanya menuntut jumlah produksi.
Buah yang berwarna menarik tetapi terlalu lunak akan lebih mudah rusak selama pengangkutan. Sebaliknya, kualitas rasa, tekstur, ukuran, kesegaran, dan umur simpan yang baik dapat meningkatkan nilai jual.
Karena itu, masa depan stroberi Alamendah sangat berkaitan dengan kemampuan petani menggabungkan pengalaman lokal dengan inovasi budidaya.
Dari Kebun Stroberi Menjadi Agrowisata
Salah satu keunggulan stroberi dibanding banyak komoditas pertanian lainnya adalah tampilannya yang menarik. Buah merah yang menggantung di antara daun hijau membuat kebun mudah dikembangkan sebagai pengalaman wisata.
Konsep ini terlihat jelas di Desa Wisata Alamendah. Jadesta Kementerian Pariwisata saat ini mencantumkan Pertanian Strawberry sebagai salah satu atraksi resmi desa wisata.
Pengembangan tersebut sejalan dengan strategi Desa Wisata Alamendah yang sejak 2019 mulai mengubah aktivitas sehari-hari masyarakat menjadi pengalaman wisata.
Bertani termasuk dalam kegiatan yang diperkenalkan kepada pengunjung bersama aktivitas peternakan, UMKM, kesenian, kopi, dan kegiatan pedesaan lainnya.
Di sinilah nilai ekonomi stroberi menjadi lebih luas.
Petani tidak harus hanya memperoleh pendapatan dari menjual buah. Kebun dapat menjadi ruang edukasi tentang cara menanam, merawat tanaman, mengenali buah matang, hingga memahami perjalanan produk pertanian dari kebun ke konsumen.
Bagi wisatawan, pengalaman seperti ini juga lebih berkesan karena mereka tidak hanya membeli satu kotak stroberi, tetapi mengenal cerita di baliknya.
Stroberi Menggerakkan UMKM Alamendah
Masalah utama buah segar adalah daya simpannya yang terbatas. Stroberi yang telah matang harus ditangani dengan baik karena teksturnya relatif mudah mengalami kerusakan.
Salah satu solusi yang dapat meningkatkan nilai ekonomi adalah mengolahnya menjadi produk turunan.
Di Desa Wisata Alamendah, contoh konkretnya adalah keripik stroberi yang tercantum dalam daftar produk UMKM di Jadesta Kementerian Pariwisata.
Pengolahan seperti ini memberi dua keuntungan. Pertama, produk mempunyai umur simpan lebih panjang dibanding buah segar. Kedua, stroberi dapat dipasarkan sebagai oleh-oleh khas yang membawa identitas Alamendah.
Peluangnya sebenarnya jauh lebih luas. Buah dapat dikembangkan menjadi selai, minuman, sirup, makanan ringan, saus, dessert, atau berbagai produk kuliner kreatif.
Semakin banyak aktivitas pengolahan dilakukan di desa, semakin panjang pula rantai nilai yang bisa dinikmati masyarakat lokal.
Nilai ekonomi tidak hanya berhenti pada petani, tetapi juga dapat menyentuh pengolah makanan, pengemasan, pedagang, pemandu wisata, dan usaha oleh-oleh.
Stroberi Menjadi Bagian dari Identitas Rancabali
Sebuah komoditas bisa disebut istimewa ketika pengaruhnya melampaui aktivitas produksi. Stroberi di Alamendah sudah bergerak ke arah tersebut.
Buah ini hadir di kebun, usaha tani, penelitian, produk UMKM, hingga atraksi pariwisata. Bahkan penelitian lama mengenai agribisnis Rancabali telah menempatkan stroberi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Bagi wisatawan, stroberi kemudian menjadi salah satu gambaran yang melekat pada perjalanan menuju kawasan Ciwidey dan Rancabali.
Ini adalah bentuk place branding yang tumbuh secara alami. Orang mengenal sebuah daerah melalui produk yang khas dari lingkungannya, sama seperti kopi dari daerah pegunungan tertentu atau apel yang identik dengan kawasan dataran tinggi lainnya.
Jika dikelola konsisten, identitas ini dapat memperkuat posisi Alamendah sebagai desa agrikultur sekaligus destinasi wisata.
Tantangan dan Masa Depan Stroberi Alamendah
Potensi besar tetap harus diimbangi dengan strategi jangka panjang.
Penelitian tentang petani Alamendah menunjukkan adanya tantangan produksi dan efisiensi input. Sementara itu, penelitian hortikultura di Rancabali memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas buah masih menjadi ruang penting untuk inovasi.
Artinya, masa depan stroberi Alamendah tidak cukup mengandalkan nama besar Ciwidey atau Rancabali.
Peningkatan kualitas bibit, teknik budidaya, pengendalian penyakit, penanganan pascapanen, kemasan, pemasaran digital, dan pengolahan hasil perlu berkembang bersama-sama.
Agrowisata juga dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika petani memperoleh nilai tambah dari pengalaman wisata dan produk olahan, ketergantungan terhadap penjualan buah segar dapat berkurang.
Inilah alasan stroberi Alamendah menarik untuk terus dikembangkan: satu komoditas dapat menjadi pintu masuk bagi pertanian, wisata, pendidikan, kuliner, dan ekonomi kreatif sekaligus.
Stroberi Alamendah sebagai komoditas andalan Rancabali mempunyai akar yang kuat dalam kehidupan pertanian masyarakat.
Berbagai penelitian mencatat Alamendah sebagai salah satu kawasan produksi stroberi Kabupaten Bandung, sementara perkembangan desa wisata membuat komoditas ini mempunyai nilai yang semakin luas.
Kini stroberi bukan hanya dipanen dan dijual sebagai buah segar. Komoditas tersebut hadir dalam agrowisata, produk UMKM, penelitian budidaya, dan identitas destinasi Bandung Selatan.
Jika berkunjung ke Alamendah atau Rancabali, cobalah melihat stroberi lebih dari sekadar oleh-oleh.
Datangi kebunnya, kenali proses budidayanya, dan pilih produk olahan buatan masyarakat setempat. Dengan begitu, perjalanan wisata sekaligus ikut mendukung rantai ekonomi lokal.
FAQ
1. Mengapa Alamendah cocok untuk budidaya stroberi?
Alamendah berada di kawasan dataran tinggi Rancabali. Pedoman Kementerian Pertanian menyebut daerah lereng pegunungan sebagai lingkungan yang sesuai untuk budidaya stroberi apabila persyaratan tumbuh dan media tanam terpenuhi.
2. Apakah Alamendah merupakan sentra stroberi?
Ya. Sejumlah penelitian IPB menyebut Desa Alamendah sebagai salah satu produsen atau kawasan penting budidaya stroberi di Kabupaten Bandung dan Kecamatan Rancabali.
3. Apakah ada wisata stroberi di Desa Alamendah?
Ada. Jadesta Kementerian Pariwisata mencantumkan Pertanian Strawberry sebagai salah satu atraksi Desa Wisata Alamendah.
4. Apa produk olahan stroberi dari Alamendah?
Salah satu produk yang tercatat secara resmi di Jadesta adalah keripik stroberi hasil UMKM Desa Wisata Alamendah.
5. Apa varietas stroberi yang ditemukan di Rancabali?
Penelitian IPB pada 2024 menggunakan varietas Mencir dan menyebut varietas tersebut populer di Ciwidey serta Rancabali.